Sabtu, 15 Desember 2012

BASEMAH STORY





MAKALAH SEMINAR NASIONAL PERADABAN BESEMAH KUNO
SEBAGAI PENDAHULU KERAJAAN SRIWIJAYA




“ PAGAR ALAM KOTA PERJUANGAN ”

















DISAMPAIKAN OLEH :


WALIKOTA PAGAR ALAM


Drs. H. DJAZULI KURIS, MM





PAGARALAM, 28 FEBRUARI 2009




PAGARALAM KOTA PERJUANGAN
Drs. H. Djazuli Kuris, MM

1.      Pendahuluan
Dari tinjauan kesejarahan, keberadaan Besemah (Sumber Belanda menyebutkan Pasemah, merujuk bagian hikayat Pasemah Libagh) terutama dapat dilihat pada masa pra hingga masa kesultanan Palembang Darussalam. Pada masa inilah dikenal istilah marga. Pada masa pemerintahan Sido Ing Kenayan yang nai tahta sekirtar tahun 1629, di buat semacam undang – undang yang mengatur hubungan antara Palembang dan daerah pedalaman. Selanjutnya hubungan ini makin efektif pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Khalipatul Mukminin Sayidul Iman (Sultan Pertama kesultanan Palembang), yang memerintah pada masa 1651 – 1706 M. setelah kesultanan Palembang dikalahkan oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal. De Kock, Sultan Mahmud Badaruddin II selaku penguasa kesultanan Palembang menyerah kalah. Kekalahan ini mempunyai arti penting dan merupakan babak baru bagi sejarah Besemah.

2.      Asal Usul Suku Besemah
Besemah adalah suatu peradaban budaya yang sudah maju pada masa prasejarah. Hal ini dibuktikan dengan adanya relief yang terdapat pada monument nasion[1]al di Jakartaa. Besemah merupakan suku melayu, dalam kawi kuno memiliki arti : pelarian / pengungsian dari dataran tiongkok yang dikenal dengan mongolith dan Persia.
Mengenai asal usul suku besemah, hingga saat ini masih berupa legenda rakyat, yaitu atung bungsu, yang merupakan salah satu diantara 7 orang anak ratu (=Raja) Majapahit, yang melakukan perjalanan menelusuri suangai nusantara yang  berakhir disungai lematang, akhir memilih tempat bermukim di dusun Benua Keling. Atung Bungsu menikan dengan Putri Ratu Benua Keling, bernama Senantan Buih (Kenantan Buih). Melaui keturunannya Bujang Jawe (Puyang Diwate), Puyang Mandulike, Puyang Sakesemenung, Puyang Sake Sepadi, Puyang Sake Seghatus, dan Sake Seketi yang menjadikan penduduk jagat Besemah (Lihat bagan Alir).
Masalahnya bukan persoalan benar atau salah, tetapi unsure yang sangat penting dalam legenda adalah peran dan fungsinya sebagai pemersatu kehidupan suatu masyarakat (Jeme Besemah). Legenda ini dapat menjadi antisipasi Disenrtegrasi kesatuan dan persatuan jeme besemah kemana pun mereka berada. Hal ini sudah tampak dalam beberapa dekade, terutama setelah pemerintahan marga dihapuskan (UU No. 5 Tahun 1979). Perlu selalu ditanamkan perasaan dan keyakinan bahwa jeme Besemah itu (termasuk jeme semende dan jeme kisam) berasala dari satu keturunan.















 










































(Bedur. M : 2005)


3.      Berdirinya Dusun Jagat Besemah
Puyang Kunduran membuat dusun masam bulau (Ulu Manak) dan dikemuadian hari anak cucunya membuat dusun gunung kerte, termasuk sumbay besak (Sumbay Besar); Puyang Keriye Beraim membuat dusun Gunung Kaye, dan Sumur. Kemudian anak cucu keriye Beraim membuat dusun Talang Tinggi dan muara jauh ( Ulu Rurah ), Puyang Belirang membuat dusun Semahpure dan anak cucunya pindah pula membuat dusun di Ulu Manak. Puyang Raje Nyawe pindah juga membuat dusun perdipe, Petani, dan pajar Bulan. Anak cucunya pindah juga membuat dusun Alun Dua, Sandarangin, Selibar, Rambaai Kaca, Sukemerindu, Kutaraye, Babatan, Sadan, Nantigiri, Lubuk Saung, Serambi, Bandaraji, Ulu Lintang; Bangke, Singapure, Ulu Lebar, Gunung Liwat, Tanjung Beringin, Ayik Dingin, Muara Sindang, Tebat Benawa, Rempasai, Karang Anyar, Semua nya masuk sumbay besak. Puyang raje nyawe pindah ke semende, membuat dusun pajar bulan. Puyang raje nyawe kembali ke dusun Perdipe menyebarkan agama Islam dan adapt istiadat perkawinan secara Islami. Dari semende banyak penduduk yang pindah ke Kisam dan masih banyak cerita mengenai pendiria dusun – dusun di tanah Besemah ini.

4.      Sistem Pemerintahan Tradisional
Sistem Pemeritahan tradisional di daerah Besemah disebut Lampik Empat Merdike Due yang dipimpin oleh kepala – kepala Sumbay. Besemah waktu itu merupakan suatu “REPUBLIK” yang paling demokratis. Tanggung jawab dan kesetiaan sangat ketat dibina oleh orang Besemah. Rasa Solidaritas dan Loyalitas yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan prajurit – prajurit Besemah dapat melakukan perlawanan terhadap kolonialisme hal yang mengiringi rasa solidaritas dan loyaalitas yang tinggi itu baik didalam keluarga batih, keluarga luas virilokal maupun pada suku besemah secara umum adalah konsep “dimak kepadunye” dan “dide beganti”.

5.      Sindang Merdike dan Si Penjaga Batas
Status “Sindang Merdike” dan “Sipenjaga Batas” dan system pemerintahan tradisional “Lampik Empat Merdike Dua”  menjadi terancam dan sirna setelah Kolonialis Belanda dapat melakukan perlawanan Sultan Mahmud Badarudin II. Pada perang Palembang pada tahun 1819 dan tahun 1821. Dalam hubugannya dengan  kesultanan Palembang, suku Besemah selalu menganggap dirinya sebagai orang yang bebas, orang merdsike. Hubungan Sultan Palembang dengan Suku Besemah lebih bersifat suzeverenitas (Hens, 1909 : 12 – 15) kewajiban “milir seba” Bukit Seguntang pada tiap tiga tahun sekali, lebih diartikan sebagai nggahi kelaway tue, Putri Sindang Biduk. Sultan Palembang yang cukup menghormati orang – orang besemah, terbukti dengan status yang diberikannya yaitu status “Sindang Merdike” dan “Si Penjaga Batas” (Grensbewakers).
Suku besemah sering melakukan (istilah belanda onlusten, woelingen, rustverstoring), yang berarti membuat “kerusuhan” membuat “huru-hara” atau mengganggu ketentraman. Menyadari bahwa pihak Belanda pasti akan melakukan serangan, orang Besemah membuat benteng – benteng pertahanan yang kuaat, disebut kute di beberapa dusun. Misalnya kute Gelung Sakti, Kute Penandingan, Kute Tebat Seghut, Kute Agung, Kute Munteralam, dan kute – kute lainnya. Pimpinan Militer Belanda memutuskan mengirimkan ekspedisi militernya untuk menghancurkan kekuatan orang – orang Besemah, yang dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Juni tahun 1866.

6.      Belanda Mengalahkan Besemah
Oleh karena persenjataan yang lebih modern, pengalaman perang yang cukup, dan pasukan yang terlatih, akhirnya Belanda dapat menguasai satu per satu kute pertahanan prajurit – prajurit Besemah, yaitu Kute dusun Gelung Sakti, Kute Penandingan, Kute Tebat Seghut, Kute-Agung, Kute Menteralam, dan lain – lain. Pada pertempuran di kute – kute tersebut terlihat bahwa prajurit – prajurit Besemah lebih memilih kemungkinan mati dari pada mnyerah, terutama pada pertempuran di tebat seghut dan munteralam. Setelah mengalahkan perlawanan di daerah Besemah Liagh (Besemah Lebar), pasukan belanda melanjutkan serangannya ke Besemah Ulu Manak untuk menangkap tokoh – tokoh pimpinan besemah yang bersembunyi di daerah ini.
Kekalahan ini menyebabkan rakyat Besemah haarus tunduk kepada peraturan yang dikeluarkan dikeluarkan pemerintaah Belanda. Misalanya, mereka harus membayar pajak tanah, pajak rumah, menghentikan perdagangan budak, dan menghentikan kebiasaan menyabung ayam. Peratuaan dan ketentuan – ketentuan ini merupakan hal baru dan sangat memberatkan bagi orang – orang Besemah yang tidak ada sebelumnya. Hal ini berarti, status “Sindang Merdike” dan “Sipenjaga Batas” menjadi hilang. Dengan kekalahan tersebut, mulailah daerah Besemah di jajah Belanda dengan segala penderitaan dan kesulitan ekonomi. Penderitaan ii berlangsung hamper selama 82 tahun.

7.      Perang Pasifik dan Penjajahan Jepang
Kekuasaan Belanda yang tampak sangat kuat, dengan mudah dikalahkan oleh bala tentara Jepang pada perang Pasifik di bulan Februari 1942. pertahanan sekutu dilaut jawa dapat dipatahkana. Pasukan jepang mendaraat di beberapa tempat di kepulauan Indonesia. Menyerahnya Belanda kepada Jepaang pada tanggal 9 Maret 1942, menyebabkan Belanda kehilangan jajahannya di Indonesia.
Mulailah babak baru dalam sejarah Indonesia, yakni Indonesia di jajah oleh bangsa Jepang. Rakyat Indonesia semakin menderita di bawah kekuasaan jepang. Balatentara Jepang ternyata lebih kejam bila dibandingkan dengan kolonialis Belanda. Jepang yang pada awal perang Asia Timur Raya sangat opensif, berubah menjadi defensive dan tertekan oleh kekuatan sekutu, sehinggaa terdesak di berbagai front pertempuran, termasuk di wilayah Indonesia.

8.      Ghuyun Kanbu
Untuk mengatasi kekurangan pasukan, Jepang membentuk satuan militer pribumi, yang disebut Ghuyun Kanbu (Infanteri Ghuyun). Angkatan pertama Ghuyun di latih di Kota Pagar Alam, tepatnya di Balai Istirahat, di Belakang rumah sakit Juliana (Juliana Hospital), di Jalan ke arah dusun Pematang bange. Dari pusat lathan Ghuyun di Pagar Alaam di hasilkan prajurit dan perwira – perwira yang cakap dan terampil menggunakan senjata, mengatur strategi perang serta teknik – teknik berperang yang kemudian sangat bermanfaat dalam perang mempertahankan kemerdekaan. Faktor inilaha yang dapat dijadikan sebagai salah satu dasar kriteria untuk menyebut Pagar Alam sebagai “Kota Perjuangan”.

9.      Proklamasi Kemerdekaan’
Akhirnya jepang menyerah kepada ssekutu tanggal 14 Agustus 1945. kemerdekaan Indonesia di Proklamasikan Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. tidak semua daerah mengetahuinya. Oleh karenanya upacara penaikan Benderaa Sang Merah-Putih, tidak sama waktunya antara satu daerah dengan daeraah lainnya, termasuk Kota Pagar Alam. Pada tanggal 21 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, pada pemuda pejuang mengibarkan bendera merah putih di Pagar Alam (Bastari 192 : 2005). Upacara penaikan Bendera dilaksanakan di halaman toko Datuk Seri Maharajo, rumah keluarga Sofjan Rasjad (Saat ini telaah menjadi Toko cuci cetak foto modern). Hadir dalam upacara penaikan bendera itu antara lain : Siddik Adiem, datuk Seri Maharajo, Depati M. Hasyim R, Kenasin, Agam, Almunir, Tjik Seman, Tjik Nunung, Djinal Genting, M. Sohan Sumur, M. Djahri, Ardjo Talang Kelape, dan beberapa anggota Hizbul Wathan
Pemerintah Indonesia kemudian membentuk pemerintahan hingga ke daerah – daerah. Terbentuklah kewedanaan Tanah Pasemah pada Oktober 1945. Kewedanaan ini membawakan empat kecamatan, yaitu Pagar Alam sebagai ibu kota kewedanaan Kecamatan Tanjung Sakti, Kecamatan Jarai, Kecamatan Kota Agung.

10.  Pertemuan di Tebat Limau
Sebagai suatu Negara yang telah merdeka, Indonesia berusaha mengambil alih kekauasaan politik dan militer, terutama usaha untuk mengambil atau merebut senjata dari tangan jepang, Maayor Ruslan mengambil inisiatif untuk mengadakan pertemuan di Tebatlimau, dekat dusun Pelang Kenidai yang dihadiri oleh semua unsure pemerintahan, Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID), Wedanaa, Polisi, Para Pesirah, Kepala – kepala Sumbay dan pimpinan tentara keanamanan rakyat (TKR) / lascar.
Terjadi pertempuran – pertempuran dengan tentara jepang di butai – butai jepang di Gununglilan, Bumi Agung, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) Jerambah Beringin, dan Karang Dale. Pada pertempuraan – pertempuran di butai – butai Jepang tersebut telah gugur beberapa putera terbaik Besemah, antara lain mayor Ruslan, Sersan Ansori, Serma Wanar, Musalim, Zainal, Salam, Tulip, Dung, Marzuki, Zainawi, Jinal, Kamal, Abdullah, Siakip, dan beberapa orang lainnya yang tidak tercatat. Setelah balatentara menyelesaikan tugas yang diberikan sekutu dan mereka dikembalikan ketanah airnya. Perjuangan rakyat Indonesia belum berakhir. Belanda (NICA) dating kembali ke Indonesia. Terjadi pertempuran dengan pihak sekutu / Belanda yang mencapat puncaknya pada pertempuran lima hari lima malam (PLHLM) tanggal (21 juli 1947) dan agrei  militer 11 (19 desember 1948).Rakyat sumatera latan melakukan per lawanan sengit,sangat heroik, dan semangat rela berkorban yang sangat tinggi baik harta maupun nyawa, demi unuk mempertahankan kemerdekaan .perlawanan yang demikian termasuk juga di kewedanan tanah pasemah.

11.  Peran Rakyat Besemah dalam PLHLM DAN AM I
Pada Agresi Militer 1 Belanda,rakyat dikeweanan Tanah pasemah belum secara langsungt berperang karena Belanda  belum berhasil sampai ke Tanah Pasemah.namun Raktyat Besemah telah  ikut berperan pada pertempuran lima hari Lima malam  dan Agresi  Militer 1,yaitu memberikan bantuan personil (prajurit) dan logistik (beras dan sayur-sayuran) .memang sudah ada usaha  Belanda untuk melakukan serangan ke pagaralam (ibukota kewedanaan Tanah Pasemah),tetapi niat ini tidak terealisasi Karena sudah persetujuan itu,ditetapkan  garis demarkasih pertempuran  di dusun  tanjung tebat.

12.  Perlawanan Rakyat di tanah Besemah AM II
       Pada agresi militer II Belanda (Desember 1948), ada tiga daerah yang menjadi target sasaran yaitu, Muara Dau (Sekarang OKU Selatan) Tebing Tinggi, dan Pagar Alam. Pertahanan Kota Pagar Alam. Dibebankan kepada Balyon XVI STP (Sub Teritorium Palembang) yang berkekuatan enam kompi, yaitu kompi I kapten Satar, Kompi II Lettu Ichsan, Kompi III Lettu Yahya Bahar, Kompi IV Lettu Nahwi, Kompi V Lettu Adenan Ibrahim, dan Kompi VI H.S. Simanjutak. Untuk mempertahankan kota Pagar Alam ini, dibentuk tiga front yaitu front mingkik untuk menghadang pasukan belanda diluar ndikat, frony selangis untuk menghadapi belanda yang akan masuk simpang rantau-unji dan front padang kaghit (ordeming kopi yang dulu milik belanda) front padang kaghit di pimpin Lettu Yahya Bahar. Untuk menghambat pasukan belanda yang akan masuk lewat tanjung tebat, jeramba ndikat terpaksa dihancurkan. Penghancuran ini lakukan oleh prajurit agam dan kawan – kawan.
Pimpinan pasukan Belanda yang sejak awal memperkirakan bahwa luang ndikat sukar ditembus, juga melakukan pengiriman pasukan melalui jalan jepang yang bias tembus ke simpang rantau-unji, front selangis, front padang kaghit, kota Pagar Alam dan terus kedaerah impit Bukit. Pasukan TNI, lasakar pejuang dan rakyat melakukan perlawanan sengit di front selangis besar. Namun, karena persenjataan yang tidak seimbang, perlawanan ini dapat dipatahkan oleh belanda. Pasukan TNI, lascar dan rakyat pejuang terpaksa melakukan gerakan mundur ke hutan – hutan, untuk selanjutnya melakukan perang gurila (geriliya) melakukan penghadangan – penghadangan ditempat – tempat strategis dengan memasang landsmijn (ranjau darat).

13.  Politik Bumi Hangus
Pihak TNI lascar dan rakyat pejuang melakukan politik bumi hangus, terutama pada bangunan – bangunan milik belanda, agar tidak dipergunakan lagi oleh pasukan Belanda. Misalnya Pembumihangusan bangunan dikompleks BPM Jeramba Beringin, Demporeokan, kantor wedana tangsi polisi dan bangunan – bangunan diperkebunan teh gunung dempo.




14.  Peran Tanjung Sakti
Tanjung Sakti mempunyai peranan yang sangat besar terutama setelah pimpinan teras TNI yang sebelumnya bermarkas di Lubuk Linggau dipindahkan ke cughup, kemuara Aman, dan akhirnya ke Tanjung Sakti, pimpinan teras TNI ini di pimpin oleh Kolonel Bambang Otoyo dan kepala staf nya adalah Kapten M. Yunus. Tanjung Sakti juga menjadi pusat pemerintahan sipil keresidenan Palembang yang dipimpin residen Abdul Rozak. Demikian pula Bupati Amaluddin, Wedana Wangi, Wedana Ibrahim, Wedana Abdullah Sani, Siddiq Adem (Kepala penerangan) dan lain – lain berada di Tanjung Sakti. Dari kepolisian keresidenan palembang terdapat nama – nama Komisaris Polisi Sugondo, Inspekur Polisi Taslim Ibrahim, Inspektur Polisi Abdullah Amaludin. Inspektur Polisi palma, Yasin, dan Cek Umar. Kepala Penerangan dan Kepala Kesehatan juga berada di Tanjung Sakti, serta masih banyak tokoh pejuang lainnya, misalnya Rasyad Nawawi, Satar, Nurdin, Syamsul Bachri Umar (Tatung), Idham, Djarab, Nurdin Pandji Ibrahim, Bachrun Umar, Basri, Ali Syarief, Sahid, Munir, Cek Asim, dan lain – lainnya. Dari Tanjung Sakti dikendalikan pemerintahan, pengaturan taktik dan strategi melawan Belanda. Untuk mengatasi kesulitan alat tukar, dicetak uang kertas “OERIP” (Oeang Repoeblik Indonesia Perdjoeangan).
Pasukan Belanda mengetahui tentang keberadaan pemerintahan sipil dan kekuatan militer di Tanjung Sakti. Oleh karena itu, mereka melakukan serangan – serangan dengan menjatuhkan bom di beberapa tempat. Beberapa di antaranya meluluhlantakkan beberapa rumah. Tetapi banyak juga yang tidak meledak, yang kemudian digunakan oleh TNI sebagai bahan untuk merakit senjata guna melawan pasukan belanda. Dapat dikatakan, bahwa Tanjung Sakti tidak pernah di injak oleh kaki tentara Belanda yang ingin menjajah kembali dan Tanjung Sakti merupakan satu – satunya pertahanan di Kabupaten Lahat yang mampu bertahan sampai penyerahan kedaulatan bulan November 1949 (mendahului penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949).



15.  Administratif dan Perjuangan
Seiring perkembangan pemerintahan pusat, system pemerintahan di daeraah – daerah juga mengalami perubahan. Presiden Soekarno mengeluarkan peraturan presiden Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1963 tentang penghapusan keresidenan dan kewedanaan. Dengan demikian, tidak ada lagi pemerintahan kewedanaan tanah pasemah,sehingga mengubah posisi Pagar Alam sebagai Kecamatan Pagar Alam di bawah Kabupaten Lahat.
Awal tahun 1987, tokoh – tokoh masyarakat Pagar Alam berjuang mengusulkan agar kecamatan Pagar Alam menjadi Kota Administratif (Kotif). Terbentuklah panitia, yang kemudian mengajukan surat permohonan kepada Mendagri pada tanggal 15 April 1987. berkat dukungan semua pihak, akhirnya permohonan masyarakat Pagar Alam untuk menjadikan Pagar Alam sebagai kotif dikabulkan Pemerintah Pusat, dengan terbitnya peraturan pemerintah Nomor 63 Tahun 1991 tentang pembentukan kota Administratif Pagar Alam dan pemekaran wilayah Kecamatan Pagar Alam menjadi 4 kecamatan, yaitu kecamatan Pagar Alam Utara, Kecamatan Pagar Alam Selatan, Kecamatan Dempo Utara, dan Kecamatan Dempo Selatan. Mendagri yang saat itu adalah Rudini, meresmikan Pagar Alam sebagai kotif pada tanggal 15 januari 1992. Mendagri juga melantik Drs. Musrin Yasak sebagai Walikota Administratif Pagar Alam yang pertama dan menetapkan Kota Pagar Alam sebagai Kota Perjuangan.
Pagar Alam menjadi Kota Administratif melalui Undang – undang Nomor 8 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Pagar Alam dan peresmian dilakukan oleh Mendagri pada tanggal 17 Oktober 2001. Gubernur Sumatera Selatan H. Rosian Arsyad atas nama Mendagri melantik Pejabat Walikota Pagar Alam H. Djazuli Kuris pada tanggal 12 November 2001.
Demikianlah kilas balik perjuangan rakyat di Kewedanaan Tanah Pasemaah, mulai dari zaman “Lampik Empat Merdike Due”, “Sindang Merdike”, dan “Si Penjaga Batas” hingga penyerahaan kedaulatan, yang karena perlawanan gigih, ulet, dan pantang menyerah dari TNI, lascar, Tentara Pelajar, Pemuda – Pemudi Besemah di Pagar Alam dan Sekitarnya, serta rakyat pejuang pada umumnya sehingga kita dapat menyebut kota Pagar Alam sebagai “Kota Perjuanagan”. Sejarah yang sangat heroic ini perlu selalu di kenang dan dijadikan pedoman dalam mengisi kemerdekaan, juga tidak lupa akan selalu menghormati jasa para pahlawan, khususnya yang gugur di Tanah Besemah.

Pagar Alam, 28 Februari 2009
Walikota Pagar Alam,


H. Djazuli Kuris.



DAFTAR PUSTAKA


Arif, N. Permana, dkk. 2008. Kaleodoskop 5 Tahin Pembangunan Kota Pagar Alam.
Pemerintah Kota Pagar Alam. Palembang: Tavern Artwork

Bedur, Marzuki. Dkk. 2005. Sejarah BESEMAH dari Zaman Megalitikum, Lampik Empat Merdike Due, Sindang Merdike ke Kota Perjuangan. Pemerintah Kota Pagar Alam. Jakarta: KDT Perpustakaan Nasional RI.

Mahruf, Kamil, dkk. 1999. Pasemah Sindang Merdike 1821 – 1866. Jakarta: Pustaka Asri

Sumber Lain :
Undang – undang Nomor 8 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Pagar Alam (Lembaran Negara RI tahun 2001 Nomor 88, tambahan lembaran Negara Nomor 4115);

Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1991 tentang Pembentukan Kota Administratif
Pagar Alam

Wawancara dengan :
  1. Tumenggung Citra Mirwan (desa Pelajaran Jarai)
  2. Satar (Beringin Jaya, Kota Pagar Alam).





[1] Walikota Pagar Alam

Kurikulum 2013

KURIKULUM BARU 2013
CIPUTAT.“Melahirkan generasi yang memiliki karakter bangsa”.Akhir-akhir ini, kembali media online banyak memperbincangkan persoalan besar yang melanda generasi saat ini, terkikisnya karakter bangsa pada generasi muda, pendidikan dijadikan sasaran karena melahirkan generasi yang dianggap kurang menggambarkan manusia berkarakter. Karena kesalahan dalam pelaksanaan pendidikan dilapangan akhirnya berdampak pada kesalahan melahirkan generasi. Namun apa dikata, permasahan sudah terlalu banyak muncul, pelajar yang senang tawuran, terkikisnya prilaku saling menghormati, anak-anak sudah mulai melupakan etika moral kepada orang tua, pergaulan yang bebas sehingga tercipta lingkuangan sosial tanpa moral. Selanjutnya masyarakat yang lebih kepada individualistik, warisan nenek moyang akan hidup bergotong royong pun tinggal semboyan. Ada yang mengistilahkan bangsa kita sedang mengalami kegagalan pembangunan karakter.
Untuk merespon permasalahan yang pelik di atas, pendidikan dituntut mampu menjadi wadah untuk memanusiakan manusia yang berkarakter. Jelasnya lagi tuntutan tersebut diimplementasikan dalam bentuk kurikulum, saat ini kurikulum kita dianggap terlalu berat bagi peserta didik. Tentu saja dengan banyaknya mata pelajaran, banyaknya buku teks yang harus dibawa, jam pelajaran yang padat, harus mengikuti program kursus, les, belum lagi ekstrakurikuler yang harus diikuti sangat beragam.
Ini semua akhirnya mengabaikan moment penting dalam penanaman karakter pada peserta didik. Terutama pada tingkat sekolah dasar, peserta didik harus menuntaskan mata pelajaran hingga 12 mata pelajaran dan ditambah pengembangan diri dan muatan lokal. Padahal usia anak sekolah dasar adalah usia “golden Age”, dimana akan lebih mudah dalam penanaman karakter.
Isu penting terhadap permasalahan karakter akhirnya direspon dengan merubah kurikulum yang mampu membentuk karakter bangsa. Kurikulum baru ini rencananya akan diterapkan tahun pelajaran 2013 nanti. Ada beberapa media online yang menyebutkan bahwa kurikulum baru ini akan berbeda dengan kurkulum yang sekarang. Pertama, mengurangi mata pelajaran yang dianggap terlalu berat khususnya tingkat sekolah dasar, tidak lagi terpisah-pisah dalam beberapa mata pelajaran yang banyak, tapi akan menggunakan pemeblajaran tematik integratif. Kedua, pada tingkat sekolah dasar akan lebih banyak ditanamkan pendidikan karakter. Ketiga, pada tingkat SD juga akan mereduksi mata pelajaran IPA ke dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, IPA dan IPS akan dihapuskan sebagai mata pelajaran namun akan diintegrasikan pada mata pelajaran lain. Keempat, mata pelajaran yang diwajibkan berjumlah 6 mata pelajaran saja seperti Agama, PKN, Bahasa Indonesia, Matematika, PENJASKES dan Seni Budaya, yang lainnya akan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran tersebut. Kelima, standar isi berbasis kompetensi, kalau yang sekarang kompetensi dikembangkan dari mata pelajaran sedangkan pada kurkulum baru mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi. Keenam, standar proses akan diarahkan pada pembelajaran berbasis observasi. Ketujuh, ada wacana yang diangkat bahwa pada sekolah dasar akan dihilangkan Ujian Nasional dan akan diserahkan kepada satuan pendidikan masing-masing.
Beberapa catatan di atas adalah gambaran umum draf kurikulum yang akan diterapkan tahun 2013. Akan tetapi, bukan tidak ada kendala dalam perubahan kurikulum ini. Ada banyak persoalan baru yang muncul apabila benar kurikulum baru diterapkan. Pertama, pengurangan mata pelajaran akan diikuti dengan pengurangan guru, apalagi kalau IPA dan IPS menjadi benar-benar dihilangkan. Selanjutnya bahasa asing dan sains. Seperti diungkapkan oleh wakil menteri pendidikan Prof. Dr. Musliar Kasim bahwa Bahasa Inggris dan Sains sebaiknya dihapuskan pada tingkat sekolah dasar. Ini berangkat bahwa pada sekolah dasar sebaiknya lebih banyak ditanamkan pendidikan karakter.
Kedua, dengan adanya kurikulum baru, akan mempengaruhi perubahan buku teks.  Ketiga, adalah guru sebagai kunci keberhasilan dalam pelaksanaan pendidikan. Sekiranya tidak ada tindak lanjut yang maksimal terhadap pengembangan kompetensi dan professional guru. Salah satu pengamat pendidikan, Arief Rachman, mengatakan bahwa kunci dari berjalannya kurikulum baru dengan lancar dan sukses membentuk siswa yang cerdas serta berbudi pekerti adalah guru. Dalam pengaplikasian kurikulum ini, guru memegang peran penting. "Saya tidak keberatan dengan konsep kurikulum baru ini. Yang penting gurunya siap dan mau berkomitmen untuk kurikulum ini," kata Arief kepada Kompas.com, Jumat (16/11/2012). Jelas bahwa kurikulum juga harus dikomunikasikan dengan baik kepada para guru. Karena mereka berdiri paligdepan dalam pelaksanaan kurikulum.
Keempat, pemahaman pelaksana pendidikan pada tingkat sekolah terhadap integrasi kurikulum belum merata. Para guru akan merasa kesulitan dalam menyampaikan materi dengan megintegrasikan mata pelajaran yang dihapuskan ke mata pelajaran lainnya kalau tanpa didukung dengan pengembangan media dan sarana pembejalaran yang memadai. Apa yang terjadi pada sekolah negeri. Menurut Nuh, hampir semua sekolah di seluruh wilayah Indonesia ditemukan ruang kelas yang rusak. Lebih lanjut Nuh menyebutkan provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan yang paling banyak ditemukan dengan presentasi sebesar 23 persen. Tempo online. (14/02/2012). Dicatat pula, tahun 2012 ada 173.344 ruang kelas rusak.(Tempo 14 Februari 2012).
Setidaknya ada perubahan yang sangat berarti bagi pendidikan kita. Namun perubahan ini jangan sampai melupakan penjelasan dan sosialisasi yang komprehensif pada lapisan bawah terutama pada guru yang akan menjalankan kurikulum itu sendiri. Tentunya juga dengan tida melupakan perbaikan infrasutruktur yang masih merata butuh perhatian penuh.  Yang terpenting pula bahwa, kurikulum saat ini adalah untuk mempersiapkan generasi 20-30 tahun mendatang. Kalau hulunya salah  akan sulit memperbaiki hilirnya. Dan jangan sampai kurikulum yang baru hanya mengedepankan karakter saja. Tetapi melupakan pengembangan nalar. Padahal kita perlunya mempersiapkan generasi yang memiliki karakter dan memiliki nalar.  *** (Jonson Harianto, S.Pd.I)

Jumat, 21 September 2012

Kampoeng Impian

Kampung Impian (Bag.I)
Kelompok sosial kecil yang memiliki komunitas yang beragam prilaku sosial warganya. Namun, Komunitas kecil itu, masih menyimpan dan menerapkan tatanan sosial yang masih berada dalam garis-garis norma kemasyarakatan, mereka mengenal mana hak dan kewajiban baik sebagai warganya ataupun sebagai pemimpin. dalam komunitas kecil itu juga ada sistem sosial yang dibangun. Uniknya mereka layaknya sistem yang tertata, dan berperan sesuai dengan lakonnya masing-masing.
Menariknya pula ada beragam peran, ada yang berlakon, anak sekolah, petani, guru, buruh, pedagang, pejabat kampoeng (Kades, hansip dan jajaran anak buahnya). Tapi tidak ada satupun anak-anaknya yang tidak sekolah. dan tamat sekolahpun tidak ada yang nganggur. 
Berbagai peran itu selalu menyadari akan posisi mereka dan berusaha untuk menolong sesama sesuai dengan kemampuannya.
Pak Kades itulah yang menjadi kunci keteraturan hidup dalam masyarakatnya, setiap kebijakan tidak hanya dibuat, tapi ia sosialisasikan kesemua lapisan, lalu dijalankan oleh lapisan masyarakat. Namun, pengawasan tak pernah luput dari pak kades, ia tidak hanya menunggu laporan dari pejabat bawahannya. Setiap hari selalu menyempatkan untuk melihat langsung apakah kebijakannya itu sudah dilaksanakan. 
Apa sebenarnya yang terjadi di lapangan:
Pertama: Pak Kades melihat lapisan masyarakat yang paling penting bagi pertumbahan dan kelangsungan hidup masyarakatnya yakni pertanian; dalam hal ini ia sangat memperhatikan apa yang harus ditanam dan bagaimana penanamannya serta seperti apa hasilnya nanti. Setelah hasilpun pak Kades tidak membiarkan para petani menjual ke luar kampoeng impian. Ia terlebih dahulu melihat kebutuhan pokok semua warganya sudah terpenuhi apa belum. Jika masih ada yang belum mendapatkan pangan dan kebutuhan pokok, maka hasil pertanian itu akan dibeli dengan harga tinggi untuk diberikan kepada yang belum memenuhi. Tapi untuk tahun pertama, mereka disuplay pak Kades. Dan tahun kedua, mereka dipinjamkan lahan kosong untuk menanam kebutuhan pokok. Sehingga tahun berikutnya mereka memiliki hasil pertanian sendiri dan bisa dijual pula pengurus kampoeng bag.pangan dan ekonomi kerakyatan. Dan seterusnya akan diberikan ke masyarakat lain yang belum mampu memenuhi kebutuhan pokok. Sampai akhirnya masyarakatnya memiliki kecukupan pangan. dan hasil pertanian pun disimpan sebagai stok dan sebagiannya dijual ke luar kampoeng.

Yang kedua adalah: Pendidikan, dalam hal pendidikan pak kades benar-benar memperhatikan tingkat pendidikan warganya. Setiap warganya yang memiliki anak diwajibkan sekolah sampai sekolah menengah atas, karena di kampoeng itu pendidikan yang tertinggi hanya SMA, jadi pendidikan yang diwajibkan hanya sebatas SMA saja. Semua warganya mendapatkan pendidikan gratis 100%. Biaya pendidikan, seperti buku dan perlengkapan tulis serta seragam disediakan pengurus desa bag.penjaminan pendidikan gratis setempat (Pak kades dan jajaran bawahannya), tentu saja tidak diambil dari uang patungan mereka. Tetapi dari hasil penjualan pangan dan kebutuhan pokok, hasil kerajinan, usaha-usaha kecil lainnay dan pemasukkan dari para warganya yag sudah sukses di luar kampungnya. Mereka yang berprestasi selalu disekolahkan di kota. setelah berhasilpun mereka diajak kembali ke kampung untuk membagi keberhasilannya dengan warga lainnya. Sehingga hubungan warganyapun tidak terputus. Adapun mereka yang hanya ingin lulus di tingkat SMA saja, maka mereka wajib mengikuti karantina dari kegiatan kepemudaan di kampoeng, kegiatan karantina ini berisi berbagai pelatihan keterampilan, baik itu untuk usaha, kerja buruh ataupun menjadi guru. Setelah selesai dikarantina, mereka diberikan modal sesuai dengan kebutuhan dan aspek kemampuan mereka masing masing. hasil usaha yang dilakukan pun di jual ke pasar dan diluar kampungnya melalui bantuan pengurus desa. Di samping menjadi pemasukkan pribadi, juga menjadi pemasukkan desa dan dipergunakan pula untuk kepentingan warganya misalnya biaya hidup, pendidikan, kesehatan, dan pengadaan serta perbaikan sarana umum yang ada di desanya.
Bersambung.....(.....)

Selasa, 13 Maret 2012

Menjangkau yang Tidak Terjangkau

Tema ini seperti mengilustrasikan adanya solusi yang akan menyelesaikan semua permasalahan yang ada pada dunia pendidikan kita. Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam mempertahankan suatu bangsa, baik itu dianggap sebagai sarana dalam mempertahankan nilai-nilai yang telah disepakati ketika bangsa ini menyatakan dirinya menjadi suatu negara yang berdiri sendiri. Dimana terdapat nilai-nilai luhur yang telah dirumuskan oleh pendiri bangsa kita. yang akan menajdi gambaran manusia indonesia yang diharapkan nantinya. timbulnya kesepakatan nilai-nilai tersebut adalah sebagai dampak kekecewaan dari nilai-nilai yang diwariskan penjajah kepada masyarakat pribumi pada waktu itu. dimana banyak nilai-nilai budaya yang tidak sesuai dengan kondisi dan cultur masyarakat pribumi saat itu.

Independensi menjadi bangsa yang berdaulat tentunya hasil dari migrasi nilai diskriminatif yang diwariskan penjajah. maka dari itu, nlai-nilai bangsa yang membentuk kedaulatan bangsa ini harus dipertahankan dan dikembangkan kepada generasi berikutnya.
proses pewarisan nilai-nilai budaya luhur tersebut tidak akan terwariskan jika tidak diajarkan kepada anak-cucu para pendiri bangsa ataupun generasi setelah merdeka saat ini.

Menjawab harapan tersebut, tentunya dengan adanya pendidikan. sehingga nilai-nilai luhur tersebut dapat diwariskan. disampaing pewarisan budaya, pendidikan dijadikan alat untuk menjadikan bangsa ini dinamis terhadap perubahan zaman. Dinamisme perkembangan zaman dengan berkembanganya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, menjadikan pendidikan yang diwujudkan juga harus mampu menjadikan generasi terdidik yang siap dengan zaman ini dan esok. Dimana pendidikan yang bagus akan menjadikan bangsa ini bermartabat, baik dalam segi culture, perdaban, etika, pengetahuan dan teknologi. Adapun bangsa ini apabila pendidikannya bagus maka apa yang diharapakan seperti sikap keagamaan, keilmuan, budaya ataupun karakter dan bahkan teknologi akan tercapai dengan bagus pula.

Namun kembali mengomentari tema yang di usung kementrian pendidikan dan kebudayaan tersebut, bahwa dikaitkan dengan permasalahan pendidikan yang ada di negeri ini. Masih Banyk Permasalahan Pendidikan yang belum terselesaikan, dari penentuan kebijakan samapai kepada permasalhan implementasi kebijakan. Belum lagi politisasi kebijakan masih sangat dominan dalam menentukan kebijakan tentang pendidikan. seringkali dijadikan senjata para politisi yang ingin mengambil kesempatan dibalik kesengsaraan.

Namun, saya tidak membeberkan kasusnya. tapi ada dasar dari pendidikan yang kita lupakan, yakni ruh dari nilai pendidikan itu sendiri. sepertinya pendidikan tidak lagi berorientasi pada aspek pemantapan nilai-nilai budaya baik itu keagamaan, karakter, atau bahkan keilmuan yang masih monoton. Sepertinya, kepercayaan terhadap pendidikan akan menjadi wadah sosial of change, atau media yang akan mengubah tatanan sosial ke arah lebih baik atau terarah kini berkurang. Konkret saja, lulusan pendidikan yang ternama, agamis, elit, ataupun sederhana. acapkali belum menyelesaikan kasus pelanggaran moral atau nilai sosial dimasyarakat. misalnya tawuran anak-anak remaja, penyimpangan seksual, amoral, premanisme, atau kalangan yang berpendidikan tinggi dan menjabat dipemerintahan pun ikut menambah keterpurukan hasil pendidikan di negeri ini.

Karakter yang mulia dan diharapkan memakmurkan dan mencerdaskan bangsa, menjadi pupus karena penyimpangan-penyimpangan sosial tersebut. Namun, penyesalan lebih baik dari pada kita terlarut dan seolah tidak tersadar kalau pendidikan di negeri kita masih sangat butuh perbaikan.

Semoga dengan menjangkau yang tak terjangkau, masalah-masalah pendidikan dapat teratasi. Kalau selama ini kita melihat siswa yang tak dapat sekolah karena jauhnya sekolah, tidak ada sarana yang memadai untuk bersekolah atau samapai kesekolah, putus sekolah karena harus membantu orang tua -yang semestinya anak-anak menjadi tanggung jawab orang tua dan buka orang tua menjadi tanggung jawab anak, karena ketika anak diberikan kesempatan untuk belajar meskipun sulitnya kondisi ekonomi orang tuanya. maka nanti anaknya tidak akan seperti orang tuanya bahkan mengangkat martabat orangtuanya dimata masyarakat dan di hadapan Allah. tapi ketika kita memaksakan mereka harus bekerja, padahal usia mereka harus bersekolah, itu berarti membiarkan mereka lebih buruk dari orangtuanya-, atau karena penyimpangan sosial seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir ini; anak mencuri sandal, anak sudah berani bergaul seperti orang dewasa ataupun tawuran yang sering terjadi dimana-mana. Belum lagi kondisi bangunan sekolah kita yang masih banyak membutuhkan perbaikan atau sudah sangat prihatin dan masih banyak permasalahan lainnya.

Harapan dengan mengusung slogan tersebut. maka permasalahan pendidikan dapat diatasi sesuai dengan kondisi atau keragaman permasahan dan faktor-faktor timbulnya permasalahan-permasalahan tersebut.

Sekilas Khutbah Jumat

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pada hari Jumat, para umat Muslim di seluruh dunia melakukan ibadah salat Jumat yang mana saat ...